Rabu, 01 November 2017

Teknik Pengujian Perangkat Lunak

Teknik Pengujian Perangkat Lunak 

1. White Box
2. Black Box 



1. Pengujian White-Box Pengujian white box, kadang-kadang disebut pengujian glass box, adalah metode desaintest case yang menggunakan struktur kontrol desain prosedural untuk memperoleh test case. Dengan menggunakan metode pengujian white box, perekayasa sistem dapat melakukan test case yang : 
1. memberikan jaminan bahwa semua jalur independen pada suatu modal telah digunakan, paling tidak satu kali. 
2. Menggunakan semua keputusan logis pada sisi true dan false 
3. Mengeksekusi semua loop pada batasan mereka dan baas operasional mereka 
4. Menggunakan struktur data internal untuk menjamin validitasnya 

Pada titik ini, dapat diajukan pertanyaan yang beralasan, yaitu “Mengapa menghabiskan waktu dan energi untuk menguji logika jika kita dapat dengan lebih baik memperluas kerja yang dapat memastikan bahwa persyaratan program telah dipenuhi ?” Bila dinyatakan dengan cara lain, mengapa kita tidak menggunakan semua energi kita untuk melakukan pengujian black box ? Jawabannya ada pada sifat cacat perangkat lunak : 

1. Kesalahan logis dan asumsi yang tidak benar berbanding terbalik dengan probabilitas jalur program yang akan dieksekusi. Kesalahan cenderung muncul dalam kerja kita pada saat kita mendesain dan mengimplementasi fungsi, kondisi atau kontrol yang berada di luar mainstraim. Pemrosesan setiap hari cenderung dipahami dengan baik sementara pemrosesan “kasus khusus” cenderung berantakan · 

2. Kita sering percaya bahwa jalur logis mungkin tidak akan diseksekusi bila pada kenyataannya akan diseksekusi pada basis reguler. Aliran logika dari suatu program kadangkadang bersifat konterintuitif yang berarti asumsi kita yang tidak kita sasari mengenai aliran dan data kontrol dapat menyebabkan kita membuat kesalahan desai yang akan terungkap hanya setelah pengujian jalur mulai. ·

3.  Kesalahan tipografis adalah random. Bila sebuah program diterjemahkan ke dalam kode sumber bahasa pemrograman maka dimungkinkan akan terjadi banyak kesalahan pengetikan. Beberapa akan ditemukan dengan mekanisme pengecekan sintaks, tetapi yang lainnya akan tetap tidak terdeteksi sampai pengujian mulai. 

Masing-masing alasan tersebut memberikan suatu argurmen untuk melakukan pengujian white box. Pengujian black box, tidak peduli seberapa cermat dilakukan, dapat menangkap bentuk kesalahan tersebut. 

2. Pengujian Black-Box 

Pengujian black-box berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak. Dengan demikian, pengjian black-box memungkinkan perekayasa perangkat lunak mendapatkan serangkaian kondisi input yang sepenuhnya menggunakan semua peryaratan fungsional untuk suatu program. 

Pengujian black-box bukan merupakan alternatif dari teknik white-box tetapi merupakan pendekatan komplementer yang kemungkinan besar mampu mengungkap kelas kesalahan daripada metode white-box. Pengujian black-box berusaha menemukan kesalahan dalam kategori sebagai berikut : 
1. Fungsi-fungsi yang tidak benar atau hilang 
2. Kesalahan interface 
3. Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal 
4. Kesalhan kinerja 
5. Inisialisasi dan kesalahan terminasi 
Tidak seperti pengujian white box yang dilakukan pada awal proses pengujian, pengujian black box cenderung diaplikasikan selama tahap akhir pengujian. Karena pengujianblack box memperhatikan struktur kontrol, maka perhatian berfokus pada domain informasi. Pengujian didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
 - Bagiamana vaiditas fungsional diuji ? 
 - Kelas input apa yang akan membuat test cse menjadi baik ? 
- Apakah sistem sangat sensitif terhadap harga input tertentu ? 
- Bagaimana batasan dari suatu data diisolasi ?
 - Kecepatan data apa dan volume data apa yang dapat ditolerir oleh sistem ? 
- Apa pengaruh kombinasi tertentu dari data terdahap operasi sistem ?

 Dengan mengaplikasikan teknik black box, maka kita menarik serangkaian test case yang memenuhi kriteria berikut ini : 
1. Test case yang mengurangi, dengan harga lebih dari saatu, jumlah test case tambahan yang harus didesain untuk mencapai pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan. 
2. Test case yang memberi tahu kita sesuatu mengenaikehadiran atau ketidakhadiran kelas kesalahan daripada memberi tahu kesalahan yang berhubugnan hanya dengan pengujian spesifik yang ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar