Kamis, 02 November 2017

Faktor Pengujian Perangkat Lunak



Faktor Pengujian Perangkat Lunak


Faktor perangkat lunak adalah seberapa mudah sebuah program komputer dapat diuji.Karena pengujian sangat sulit, perlu diketahui apa yang dapat dilakukan untuk membuatnya menjadi mudah.Kadang-kadang pemrogram beresedia melakukan hal-hal yang akan membantu proses pengujian dan checklist mengenai masalah-masalah desai yang mudah, fitur dan lain sebagainya yang berguna dalam bernegosiasi dengan mereka.


Checklist berikut memberikan serangkaian karakteristik yang membawa kepada perangkat lunak yang dapat diuji :


Operabilitas.


1) Sistem memiliki beberapa bug (bug menambah analisis dan biaya pelaporan keproses pengujian).


2) Tidak ada bug yang memblok eksekusi pengujian


3) Produk berkembang di dalam tahapan fungsional (memungkinkan pengemabngandan pengujian secara simultan)


Observabilitas.


1) Output yang berbeda dikeluarkan oleh masing-masing input.


2) Tahap dan variabel sistem dapat dilihat atau diantrikan selama eksekusi.


3) Sistem dan variabel yang lalu dapat dilihat atau diantrikan (misal : log transaksi)


4) Semua faktor yang mempengaruhi output dapat dilihat.


5) Kesalahan itnernal dideteksi secara otomatis melalui mekanisme selftesting.


6) Kesalahan internal dilaporkan secara otomatis.


7) Kode sumber dapat diakses


Kontrolabilitas


1) Semua output yang mungkin dapat dimnculkan melalui beberapa kombinasi input.


2) Semua kode dapat dieksekusi melalui berbagai kombinasi input.


3) Keadaan dan varibale perangkat lunak dan perangkat keras dapat dikontrol secara langsung oleh perekayasa pengujian.


4) Format input dan output konsistem dan terstruktur.


5) Pengujian dapat dispesifikasi, dioptimasi dan direproduksi dengan baik.


Dekomposabilitas.


1) Sistem perangkat luank dibangun dari modul-modul independen.


2) Modul-modul perangkat lunak dapat diuji secara independen.


Kesederhanaan.


1) Kesederhanaan fungsional (seperti, kumpulan fitur adalah kebutuhan minimum untuk memenuhi persyaratan).


2) Kesederhanaan struktural (seperti arsitektur dimodularisasi untuk membatasi penyebaran kesalahan)


3) Kesederhanaan kode (seperti, standar pengkodean diadopsi demi kemudahan inspeksi dan pemeliharaan).


Stabilitas.


1) Pengujian ke perangkat lunak tidak sering.


2) Perubahan ke perangkat lunak terkontrol.


3) Perubahan ke perangkat lunak memvalidasi pengujian yang sudah ada.


4) Kegagalan perangkat lunak dapat diperbaiki dengan baik


Kemampuan untuk dapat dipahami.


1) Desain dipahami dengan baik.


2) Ketergantungan di antara komponen internal, eksternal dan yang dipakai bersama,dipahami dengan baik.


3) Perubahan ke desai dikomunikasikan.


4) Dokumentasi teknik dapat diakses dengan cepat.


5) Dokumentasi teknis diorganisasikan dengan baik.


6) Dokumentasi teknis spesifik dan detail.

7) Dokumentasi teknis akurat

Rabu, 01 November 2017

Strategi Pengujian Perangkat Lunak

STRATEGI PENGUJIAN PERANGKAT LUNAK

Pengujian : serangkaian aktivitas yang dapat direncanakan sebelumnya
dan dilakukan secara sistematis.

Langkah-langkah strategis terjadi pada waktu tekanan deadline
pembuatan program mulai naik (dekat), maka kemajuan perangkat
lunak harus dapat diukur dan masalah harus muncul sedini mungkin.
Strategi pengujian menentukan :
1. Kualitas perangkat lunak.
2. Manajemen sistem yang baru.
3. Implementasi yang sesuai dengan masalah.

Dari titik pandang psikologi, analisis dan desain perangkat lunak
merupakan tugas yang konstruktif. Programmer menciptakan sebuah
program, dokumentasi dan struktur berkasnya. Namun dari sudut
pandang psikologi programmer, pengujian dapat dianggap sebagai
destruktif.
Maka :
Programmer selalu bertanggungjawab terhadap pengujian modul
program.
Melakukan pengujian terintegrasi, yaitu setelah semua modul saling
terkait. Sebuah pernyataan klasik :
“ anda tidak akan pernah menyelesaikan pengujian. Beban yang ada
akan sedikit bergeser dari anda ke pengguna. “
atau
“ anda telah menyelesaikan pengujian bila anda telah kehabisan
deadline atau uang. “
Kesalahan umum dalam komputasi :
1. Kesalahpahaman yang tidak benar.
2. Operasi mode yang tercampur.
3. Inisialisasi yang tidak benar.
4. Inakurasi ketelitian.
5. Representasi sebuah persamaan relasi yang tidak benar.
6. Perbandingan tipe data yang berbeda.
7. Operator logika yang tidak benar.
8. Perbandingan atau variabel yang tidak benar.
9. Penggunaan loop yang tidak tepat.
Pengujian integrasi : teknik sistematis untuk mengkonstruksi sistem
program sambil melakukan pengujian untuk mengungkap kesalahan
sehubungan dengan interfacing.



Integrasi non-incremental :

Membangun program dengan mendekatan “big-bang”. Yaitu semua
modul program digabung menjadi program utama kemudian diuji. Integrasi incremental :Membangun program dengan cara menguji per modul kecil / per segmen, kemudian digabung menjadi menu utama.


Teknik Pengujian Perangkat Lunak

Teknik Pengujian Perangkat Lunak 

1. White Box
2. Black Box 



1. Pengujian White-Box Pengujian white box, kadang-kadang disebut pengujian glass box, adalah metode desaintest case yang menggunakan struktur kontrol desain prosedural untuk memperoleh test case. Dengan menggunakan metode pengujian white box, perekayasa sistem dapat melakukan test case yang : 
1. memberikan jaminan bahwa semua jalur independen pada suatu modal telah digunakan, paling tidak satu kali. 
2. Menggunakan semua keputusan logis pada sisi true dan false 
3. Mengeksekusi semua loop pada batasan mereka dan baas operasional mereka 
4. Menggunakan struktur data internal untuk menjamin validitasnya 

Pada titik ini, dapat diajukan pertanyaan yang beralasan, yaitu “Mengapa menghabiskan waktu dan energi untuk menguji logika jika kita dapat dengan lebih baik memperluas kerja yang dapat memastikan bahwa persyaratan program telah dipenuhi ?” Bila dinyatakan dengan cara lain, mengapa kita tidak menggunakan semua energi kita untuk melakukan pengujian black box ? Jawabannya ada pada sifat cacat perangkat lunak : 

1. Kesalahan logis dan asumsi yang tidak benar berbanding terbalik dengan probabilitas jalur program yang akan dieksekusi. Kesalahan cenderung muncul dalam kerja kita pada saat kita mendesain dan mengimplementasi fungsi, kondisi atau kontrol yang berada di luar mainstraim. Pemrosesan setiap hari cenderung dipahami dengan baik sementara pemrosesan “kasus khusus” cenderung berantakan · 

2. Kita sering percaya bahwa jalur logis mungkin tidak akan diseksekusi bila pada kenyataannya akan diseksekusi pada basis reguler. Aliran logika dari suatu program kadangkadang bersifat konterintuitif yang berarti asumsi kita yang tidak kita sasari mengenai aliran dan data kontrol dapat menyebabkan kita membuat kesalahan desai yang akan terungkap hanya setelah pengujian jalur mulai. ·

3.  Kesalahan tipografis adalah random. Bila sebuah program diterjemahkan ke dalam kode sumber bahasa pemrograman maka dimungkinkan akan terjadi banyak kesalahan pengetikan. Beberapa akan ditemukan dengan mekanisme pengecekan sintaks, tetapi yang lainnya akan tetap tidak terdeteksi sampai pengujian mulai. 

Masing-masing alasan tersebut memberikan suatu argurmen untuk melakukan pengujian white box. Pengujian black box, tidak peduli seberapa cermat dilakukan, dapat menangkap bentuk kesalahan tersebut. 

2. Pengujian Black-Box 

Pengujian black-box berfokus pada persyaratan fungsional perangkat lunak. Dengan demikian, pengjian black-box memungkinkan perekayasa perangkat lunak mendapatkan serangkaian kondisi input yang sepenuhnya menggunakan semua peryaratan fungsional untuk suatu program. 

Pengujian black-box bukan merupakan alternatif dari teknik white-box tetapi merupakan pendekatan komplementer yang kemungkinan besar mampu mengungkap kelas kesalahan daripada metode white-box. Pengujian black-box berusaha menemukan kesalahan dalam kategori sebagai berikut : 
1. Fungsi-fungsi yang tidak benar atau hilang 
2. Kesalahan interface 
3. Kesalahan dalam struktur data atau akses database eksternal 
4. Kesalhan kinerja 
5. Inisialisasi dan kesalahan terminasi 
Tidak seperti pengujian white box yang dilakukan pada awal proses pengujian, pengujian black box cenderung diaplikasikan selama tahap akhir pengujian. Karena pengujianblack box memperhatikan struktur kontrol, maka perhatian berfokus pada domain informasi. Pengujian didesain untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut :
 - Bagiamana vaiditas fungsional diuji ? 
 - Kelas input apa yang akan membuat test cse menjadi baik ? 
- Apakah sistem sangat sensitif terhadap harga input tertentu ? 
- Bagaimana batasan dari suatu data diisolasi ?
 - Kecepatan data apa dan volume data apa yang dapat ditolerir oleh sistem ? 
- Apa pengaruh kombinasi tertentu dari data terdahap operasi sistem ?

 Dengan mengaplikasikan teknik black box, maka kita menarik serangkaian test case yang memenuhi kriteria berikut ini : 
1. Test case yang mengurangi, dengan harga lebih dari saatu, jumlah test case tambahan yang harus didesain untuk mencapai pengujian yang dapat dipertanggungjawabkan. 
2. Test case yang memberi tahu kita sesuatu mengenaikehadiran atau ketidakhadiran kelas kesalahan daripada memberi tahu kesalahan yang berhubugnan hanya dengan pengujian spesifik yang ada.

SDLC

SDLC (System Development Life Cycle)

System Development Life Cycle (SDLC)

System Development Life Cycle (SDLC) adalah suatu pendekatan yang memiliki tahap atau bertahap untuk melakukan analisa dan membangun suatu rancangan sistem dengan menggunakan siklus yang lebih spesifik terhadap kegiatan pengguna (Kendall & Kendall, 2006). System Development Life Cycle (SDLC) juga merupakan pusat pengembangan sistem informasi yang efisien. SDLC terdiri dari 4 (empat) langkah kunci yaitu, perencanaan dan seleksi, analisis, desain, implementasi dan operasional (Valacich, George, & Hoffer, 2012). Selain itu, System Development Life Cycle (SDLC) adalah sebuah proses memahami bagaimana Sistem Informasi dapat mendukung kebutuhan bisnis, merancang system, membangun sistem, dan memberikannya kepada pengguna (Dennis, Wixom, & Tegarden, 2005).
Berdasarkan pada penjelasan diatas maka SDLC dapat disimpulkan sebagai sebuah siklus yang membangun suatu sistem itu sendiri dan memberikannya kepada pengguna melalui tahapan perencanaan, analisa, perancangan dan implementasi dengan cara memahami dan menyeleksi keadaan dan proses yang dilakukan pengguna untuk dapat mendukung seluruh kebutuhan para  pengguna. Untuk menggunakan SDLC maka dibutuhkan sumber dari data awal tersebut dari pengguna yang dijadikan acuan yang nantinya dimasukkan kedalam perencanaan, analisa, perancangan dan implementasi. Penggunaan acuan ini dimaksudkan agar sistem yang dibangun bisa menjembatani kebutuhan pengguna dari permasalahan yang dihadapinya.


Contoh 4 langkah kunci dari SDLC:



  1. Perencanaan
Fase perencanaan adalah sebuah proses dasar untuk memahami mengapa sebuah sistem itu harus dibangun, dan pada fase ini memang diperlukan analisa kelayakan dengan mencari data atau melakukan proses information gathering kepada para pengguna.
Sebagai contoh: proses dalam feasibility dan wawancara , observasi dan Quesener. Misal Jika pada tahap Feasibility hasilnya baik maka langsung ketahap investigasi dan diberi form kepada client untuk mencatat kebutuhan client. Dalam sistem investigasi, dapat berupa wawancara, kuosiener atau observation. Dalam tahap ini hal yang pertama dilakukan adalah memberikan form ke user yang digunakan untuk mengetahui permintaan user.
  1. Analisa
Fase analisa adalah sebuah proses investigasi terhadap sistem yang sedang berjalan itu sendiri dengan tujuan untuk mendapatkan jawaban mengenai pengguna sistem, cara kerjanya yaitu sistem dan waktu penggunaan sistem. Dari proses analisa ini akan didapatkan cara untuk membangun sistem baru.
  1. Rancangan
Fase perancangan merupakan proses penentuan cara kerja sistem dalam hal architechture design, interface design, database dan spesifikasi file, dan program design. Hasil dari proses perancangan ini akan didapatkan spesifikasi sistem.
  1. Implementasi
Fase implementasi adalah proses pembangunan dan pengujian sistem, instalasi sistem, dan rencana dukungan sistem.
Contohnya: konstruksi, instalasi, pengujian dan pengiriman sistem ke dalam produksi (artinya operasi sehari-hari). Implementasi sistem ini mengontruksi sistem informasi yang baru dan menempatkannya ke dalam operasi, dan selanjutnya dilaksanakan tahap pengujian.


5.Maintance
. Pemeliharaan suatu software diperlukan, termasuk di dalamnya adalah pengembangan, karena software yang dibuat tidak selamanya hanya seperti itu. Ketika dijalankan mungkin saja masih ada errors kecil yang tidak ditemukan sebelumnya, atau ada penambahan fitur-fitur yang belum ada pada software tersebut. Pengembangan diperlukan ketika adanya perubahan dari eksternal perusahaan seperti ketika ada pergantian sistem operasi, atau perangkat lainnya.
  
Contoh Metodologi atau model pengembangan sistem, baik yang terstruktur maupun yang berbasis obyek

·         Agile Model

Ditulis oleh (Widodo Journal : 2006:1) Pada dekade ke 90-an diperkenalkan metodologi baru yang dikenal dengan nama agile methods. Metodologi ini sangat revolusioner perubahannya jika dibandingkan dengan metode sebelumnya. Agile Methodsdikembangkan karena pada metodologi tradisional terdapat banyak hal yang membuat proses pengembangan tidak dapat berhasil dengan baik sesuai tuntutan user. Saat ini metodologi ini sudah cukup banyak berkembang, diantaranya adalah:
1) eXtreme Programming (XP)
2) Scrum Methodology
3) Crystal Family
4) Dynamic Systems Development Method (DSDM)
5) Adaptive Software Development (ASD)
6) Feature Driven Development (FDD)
Jika kita lihat, agile bisa berarti tangkas, cepat, atau ringan. Agility merupakan metode yang ringan dan cepat dalam pengembangan perangkat lunak. Agile Alliancemendefinisikan 12 prinsip untuk mencapai proses yang termasuk dalam agility:
  1. Prioritas tertinggi adalah memuaskan pelanggan melalui penyerahan awal dan perangat lunak yang bernilai.
  2. Menerima perubahan requirements meskipun perubahan tersebut diminta pada akhir pengembangan.
  3. Memberikan perankat lunak yang sedangdikerjakan dengan sering,beberapa min ggu atau bulan, dengan pilihan waktu yang paling singkat.
  4. Pihak bisnis dan penggembangan harus berkerja sama setiap hari selam penggembangan berjalan.
  5. Bangun proyek dengan individu-individu yang bermotivasi tinggi dengan memberikan lingkungan dan dukungan yang diperlukan, dan mempercyai mereka sepenuhnya untuk menyelesaikan pekerjaannya.
  6. Metode yang paling efektif dan efisien dala m menyampaikan informasi kepada tim pengembangan adalah dengan komunikasi langsung  face to face.
  7. Perangkat lunak yang dikerjakan merupakan pengukur utama kemajuan.
  8. Proses agile memberikan proses pengembangan  yang bias ditopang.Sponsor,pengembangan, dan user garus bias menjaga ke-konstanan langkah yang tidak pasti.
  9.  Perhatian yang harus terus mennerus terhadap rangcangan dan teknik yang baik meningkatkan agility.
  10. Keserdahanaan seni untuk meminimalkan jumlah pekerjaan adalah penting
  11. Arsitektur,requirements, dan rancangan terbaik muncul dari tim yang mengatur sendiri. 
  12.  Pada interval reguler tertentu,tim merefleksikan bagaimana menjadi lebih efektif,kemudian menyesuaikannya.
Kelebihan  Metode Agile
1.        Meningakatkan rasio kepuasan pelanggan.
2.        Bisa melakukan reviw pelanggan mengenai software yang dibuat lebih awal.
3.        Mengurangi resiko kegagalan implementasi software dari non-teknis.
4.        Besar kerugian baik secara material atau imaterial tidak terlalu besar jiak terjadi kegagalan           

Kelemahan  Metode Agile
1.       Agile jarang dipraktekkan secara langsung,
2.       Interksi dengan customers yang berlebihan,
3.       Agile  sulid  diimplementasikan  dalam  proyek  yang berskala besar,
4.       Membutuhkan manajemen tim yang terlatih,
5.       Lemah dalam perencanaan arsitektur,2 Scrum dan Extreme Programming
6.       Keterbatasan waktu dalam perencanaan Proyek
7.       Serta beberapa kelemahan lainnya

Metodologi Waterfall

Metodologi Waterfall merupakan model klasik yang sederhana dengan aliran sistem yang linier. Output dari setiap tahap merupakan input bagi tahap berikutnya. Model ini pertama kali diperkenalkan oleh Winston Royce tahun 1970, sekarang model ini lebih dikenal dengan Liner Sequential Model.

Karakteristik dari metodologi waterfall ini meliputi beberapa bagian, yaitu :
• Aktivitas mengalir dari satu fase ke fase lainnya secara berurutan.
• Setiap fase dikerjakan terlebih dahulu sampai selesai, jika sudah selesai baru mulai menuju fase berikutnya.



Tahapan penelitian pada model waterfall meliputi metodologi berupa :

1. System Engineering
Menetapkan segala hal yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek

2. Analisis 
Menganalisis hal-hal yang diperlukan untuk pembuatan atau pengembangan perangkat lunak

3. Design 
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh programmer . Tiga atribut yang penting dalam proses perancangan yaitu : struktur data, arsitektur perangkat lunak dan prosedur rinci / algoritma.

4. Coding 
Menerjemahkan data yang telah dirancang / algoritma ke dalam bahasa pemrograman yang telah ditentukan

5. Testing 
Uji coba terhadap program telah dibuat .

6. Maintenance 
Perubahan atau penambahan program sesuai dengan permintaan user.

Kelebihan dari metode WaterFall :
Metode ini masih lebih baik digunakan walaupun sudah tergolong kuno, daripada menggunakan pendekatan asal-asalan. Selain itu, metode ini juga masih masuk akal jika kebutuhan sudah diketahui dengan baik.

Kekurangan dari metode Waterfall :
·         Pada kenyataannya, jarang mengikuti urutan sekuensial seperti pada teori. Iterasi sering terjadi menyebabkan masalah baru.
·         Sulit bagi pelanggan untuk menentukan semua kebutuhan secara eksplisit.
·         Pelanggan harus sabar, karena pembuatan perangkat lunak akan dimulai ketika tahap desain sudah selesai. Sedangkan pada tahap sebelum desain bisa memakan waktu yang lama.
·         Kesalahan di awal tahap berakibat sangat fatal pada tahap berikutnya.

Metodologi Prototipe
Model ini dikembangkan karena adanya kegagalan yang terjadi akibat pengembangan project / aplikasi menggunkan sistem waterfall. Kegagalan yang terjadi biasanya dikarenakan adanya kekurang pahaman atau bahkan sampai kesalah pahaman pengertian developer aplikasi mengenai user requirement yang ada.

Yang berbeda dari metodologi prototipe ini, apabila dibandingkan dengan waterfall, yaitu adanya pembuatan prototype dari sebuah aplikasi, sebelum aplikasi tersebut memasuki tahap design. Dalam fase ini, prototype yang telah dirancang oleh developer akan diberikan kepada user untuk mendapatkan dievaluasi. Tahap ini akan terus menerus diulang sampai kedua belah pihak benar-benar mengerti tentang requirement dari aplikasi yang akan dikembangkan. Apabila prototype telah selesai, maka tahapan aplikasi akan kembali berlanjut ke tahap design dan kembali mengikuti langkah-langkah pada waterfall model. Kekurangan dari tipe ini adalah tim developer pengembang aplikasi harus memiliki kemampuan yang baik karna dalam mengembangkan prototype ini hanya terdapat waktu yang singkat. Sebuah prototiping adalah sebuah sistem dalam  fungsi yang sangat minimal.

Tahapan Metodologi Prototipe:

1.      Pengumpulan Kebutuhan dan perbaikan
Menetapkan segala kebutuhan untuk pembangunan perangkat lunak
2.      Disain cepat
Tahap penerjemahan dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh user.
3.      Bentuk Prototipe
Menerjemahkan data yang telah dirancang ke dalam bahasa pemrograman (Program contoh atau setengah jadi )
4.       Evaluasi Pelanggan Terhadap Prototipe
Program yang sudah jadi diuji oleh pelanggan, dan bila ada kekurangan pada program bisa ditambahkan
5.      Perbaikan Prototype
Perbaikan program yang sudah jadi, sesuai dengan kebutuhan konsumen. Kemudian dibuat program kembali dan di evaluasi oleh konsumen sampai semua kebutuhan user terpenuhi.
6.      Produk Rekayasa
Program yang sudah jadi dan seluruh kebutuhan user sudah terpenuhi

Kelebihan Metode Prototipe

·         Developer belajar langsung mengenai kebutuhan sistem dari customer/user,
·         Hasil produk yang lebih akurat (lebih sesuai dengan permintaan user),
·         Desain sistem lebih fleksibel,
·         Iteraktif dengan adanya simulasi prototype,
·         Untuk pengembangan lebih lanjut (jika terjadi perubahan), developer hanya perlu mengubah prototype,
·         Jika customer sudah ”puas”, prototype dibuat menjadi system secara sempurna untuk dijadikan ’Final Product’.

Sedangkan kekurangan-kekurangannya yakni:

·         Proses bisa jadi berlanjut terus menerus tanpa henti (mengikuti keinginan customer),
·         Bisa jadi customer malah menginginkan prototype system dikirim,
·         Reputasi  yang  buruk  sebagai  sebuah  metode  yang bersifat ”Quick-and-Dirty”.
·         Kemungkinan perawatan secara keseluruhan bisa saja terabaikan.
·         Pengembangan yang berlebihan untuk prototype.



Review Software Tools ACL ( Audit Command Language ) Versi 7

AUDIT TEKNOLOGI SISTEM INFORMASI #
TUGAS KELOMPOK
"MEREVIEW AUDIT COMMAND LANGUAGE VERSI 7"

Dosen : Budi Setiawan


Oleh :
Cut Gitty Faradilla / 12114469
Fitria Utami / 14114345
Nurul Hadi / 18114272
Puspita Dwi Septiyani / 18114561

4KA17

SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
Review by : Cut Gitty Faradilla


1. Pengenalan ACL
2. Manfaat ACL
·        

Review by : Nurul Hadi
3. Manfaat Menggunakan ACL software tools
            Banyak sekali manfaat menggunakan ACL software tools ini. Kemudahan yang membuat pengguna merasa sangat terbantu membuat waktu yang lama menjadi efisien dengan hanya menggunakan software ini. Dengan menggunakan ACL pekerjaan audit akan jauh lebih cepat, dapat dibandingkan dengan proses auditing manual yang memerlukan waktu berjam-jam bahkan sampai berhari-hari. Dengan beberapa kemampuan ACL, analisis data akan lebih efisien dan lebih meyakinkan.
Manfaat menggunakan ACL Software Tools ini antara lain sebagai berikut :
1.      Dapat membantu dalam mengakses data baik langsung (direct) kedalam sistenm jaringan ataupun indirect (tidak langsung) melalui media lain seperti softcopy dalam bentuk text file/report.
2.      Menempatkan kesalahan dan potensial “fraud” sebagai pembanding dan menganalisa file-file menurut aturan-aturan yang ada.
3.      Mengidentifikasi kecenderungan/gejala-gejala, dapat juga menunjukan dengan tepat sasaran pengecualian data dan menyoroti potensial area yang menjadi perhatian.
4.      Mengidentifikasi proses perhitungan kembali dan proses verifikasi yang benar.
5.      Mengidentifkasi persoalan sistem pengawasan dan memastikan terpenuhinya permohonan dengan aturan-aturan yang telah ditetapkan.
6.      Aging dan menganalisa account receivable/payable atau beberapa transaksi lain dengan menggunakan basis waktu yang sensitive.
7.      Memulihkan biaya atau pendapatan yang hilang dengan pengujian data pada data-data duplikasi pembayaran, menguji data-data nomor Invoice/Faktur yang hilang atau pelayanan yang tidak tertagih.
8.      Menguji terhadap hubungan antara authorisasi karyawan dengan supplier.
9.      Melakukan proses Data Cleansing dan Data Matching atau pembersihan data dari data-data duplikasi terutama dari kesalahan pengetikan oleh End-User.
10.  Dapat melaksanakan tugas pengawasan dan pemeriksaaan dengan lebih fokus, cepat, efisien, dan efektif dengan lingkup yang lebih luas dan analisa lebih mendalam. Mengidentifikasi penyimpangan (Fraud Detection) dapat dilakukan dengan cepat dan akurat sehingga memiliki waktu lebih banyak alam menganalisa data dan pembuktian.
4. Keuntungan dan kelemahan
            Adapun keuntungan dan kelemahan dalam penggunaan juga dalam aspek fitur yang terdapat didalam software ACL ini. Antara lain sebagai berikut :
A.    Kelemahan
1.      ACL adalah aplikasi yang hanya 'read-only', ACL tidak pernah mengubah data sumber asli sehingga aman untuk menganalisis jenis live-data.
2.      Untuk dapat mendeteksi berbagai kecurangan itu, auditor harus mempunyai pemahaman yang baik atas pengendalian internal yang diterapkan oleh perusahaan beserta kelemahan-kelemahannya. Dengan demikian, auditor dapat mengembangkan profil kecurangan untuk mengidentifikasi berbagai karakteristik data yang diperkirakan memiliki skema kecurangan jenis tertentu. Misalnya kecurangan dalam penggajian, pembayaran ke pemasok fiktif, dan gali lubang tutup lubang dalam piutang usaha.
3.      Walaupun manfaat yang didapatkan dengan menggunakan software ACL sangat banyak namun karena biaya yang dikeluarkan sangat besar sehingga masih banyak kantor akuntan yang menggunakan software ini. Hal inilah yang menjadi kendala para auditor dalam menggunakan Teknik Audit Berbantuan Komputer, selain itu apabila ingin menggunakan TABK haruslah melakukan pengembangan yang kontinyu kepada para staf yang akan menggunakan software tersebut yang tentunya memerlukan biaya yang tidak sedikit.

B.     Keuntungan
1.      Bagi auditor , penggunaan ACL akan membantu mereka dalam melaksanakan tugas audit secara lebih terfokus, cepat, efisien, efektif, dan murah dengan lingkup yang lebih luas dan analisis mendalam. Indikasi penyimpangan dapat dilakukan dengan cepat, akurat, dan dengan beraneka ragam analisis menggunakan ACL sehingga auditor dapat menemukan lebih banyak penyimpangandan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan pembuktian.
2.      Untuk manajemen, termasuk profesi akunting dan keuangan, ACL dapat membantu mereka dalam menganalisis data dan informasi perusahaan, pengujian pengendalian yang telah ada, dan pembuatan laporan manajemen secara cepat dan fleksibel.
3.      Untuk Sumber Daya Manusia/Pemeriksa, IT dan lainya: Dapat melakukan sistem pelaporan yang sesuai dengan keinginan atau laporan yang diinginkan (Independensi) dan dengan Akurasi dan Kwalitas Data yang sangat bagus. Sehingga data pelaporan dapat dipercaya. Proses pembuatan Rekapitulasi dengan sangat cepat. Pencarian Duplikasi Data seperti Identitas Kewarganegaraan (1 Orang memiliki lebih dari 1 Identitas).
4.      Untuk membantu akuntan dalam melakukan pemeriksaan di lingkungan sistem informasi berbasis komputer atau pemrosesan data elektronik.
5.      Untuk menemukan berbagai penyelewengan atau pola dalam transaksi yang dapat mengindikasikan adanya kelemahan pengendalian atau kecurangan. Seperti kecurangan dalam laporan keuangan (dilakukan oleh pihak manajemen), korupsi, dan penyalahgunaan aset (dilakukan oleh karyawan).
6.      memungkinkan para penggunanya untuk menggabungkan data dari sistem yang berbeda untuk konversi, rekonsiliasi, dan kontrol sehingga dapat menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi.
7.      ACL dapat membaca langsung baik jenis EBCDIC atau ASCII, sehingga tidak perlu untuk menngkonversi kedalam bentuk lain.
8.      Mudah dalam penggunaan
9.      Built-in audit dan analisis data secara fungsional.
10.  Kemampuan menangani ukuran file yang tidak terbatas.
11.  Kemampuan mengekspor hasil audit
12.  Pembuatan Laporan berkualitas tinggi.

Review by : Fitria Utami
5. Fungsi-Fungsi pada ACL 
6. Fitur dan Kemampuan ACL


Review by : Puspita Dwi Septiyani
7. Menu pada ACL (Audit Command Language )
8. Membuat Project Baru       
9. Unsur-Unsur Utama  Data  Analisis ACL